Ada apa dengan dua mahluk ini? Mari kita lihat FF yang dibuat oleh pak de Vahn ini..
Rating:
G untuk
Gak jelas!
Di kejauhan, terlihat seorang gadis manis dengan rambut dikepang delapan yang ujung-ujungnya dicat merah jambu, berlari dalam adegan
slow motion sambil memanggul tiang bendera di pundaknya. (sfx: Koi Mil Gaya) Gadis itu adalah Chibi Maru-Maru Kuchink. Dia mendatangi Vahn… dalam adegan slow motion. (Pada ngerti slow motion kan? Awas kalo ga ngerti!)
…
“Hosh..hosh..hosh…” <-- kalo di komik-komik orang kecapean kayak gitu ngomongnya. Dan Chibi pun sama seperti di tokoh dalam komik yang kecapean setengah mampus. Lidahnya udah keluar 10 senti dari bibir.
“Buset Chi, kok elu yang bawa tiang benderanya? Gue ngarep sih anak-anak cowok Hapel yang datang bawa tiang bendera, eh malah elu yang nongol. Kagak cape lu?” Vahn berkata.
“Kakak gak liat ya lidah Chi udah mau copot gara-gara kecapean!” bentak Chi sebal.
“Oh, mangap, gue kira elu mau nangkep nyamuk. Masih keturunan katak kan?” kata Vahn asbun. “Habis lidah Chi panjangan banget sih, mengingatkan gue kepada lidah katak yang-UPH!-WHOI-KHAFA-KHAFAAN-IHIH?-KHUE-KHAGA-WIHA-HAPAS-HIH! HUMPHAH!” (subtitle: WOI APA-APAN NIH? GUE GA BISA NAPAS NIH! SUMPAH!”
Chibi telah menyumpal mulut Vahn dengan ujung tiang bendera yang dibawanya. Vahn megap-megap.
“Kakak sih, ngatain Chibi keturunan katak… Apa? Lepasin? Ogah… Cium dulu doooonggg” *ketip-ketip*
“IHIH-KHUE-HEHIUS-FEHERAN-KHAGHA-FIHA-HAFASSSSSS!!! (subtitle: INI GUE SERIUS! BENERAN KAGA BISA NAPAS CHIBI SAYAAANG…) *yang lain ga usah komentar!*
“Apa, Kak? Gak bisa napas? Oh, ngomong dong…” Chibi menarik tiang benderanya. Ujung tiang bendera itu belepotan air liur. “Iugh…” Chibi mengerutkan mukanya. Ekspresi wajahnya tampak jijik melihat air liur yang menetes-netes dari ujung tiang bendera. Uoh, dia imut banget!
Vahn batuk-batuk. “Chibi kejam deh. Vahn nyaris aja mampus tadi…” *ngambek mode on*
Chibi nyengir.
Vahn masih ngambek.
Chibi ketawa.
Vahn ga ngaruh.
Chibi kentut.
Vahn pingsan.
“Yah? Kok kakak pingsan?” Chibi panik.
***
“Nah, beres sudah. Tiang bendera ini sangat sempurna!” kata Vahn. Setelah siuman dari pingsan singkatnya, Vahn berusaha menghujamkan tiang bendera yang ga ada benderanya sama sekali itu tadi ke tanah. Tiang itu sekarang berdiri kokoh, bersiap melakukan tugasnya. Mata Vahn berbinar-binar saat menatap tiang bendera itu.
Chibi ikut memandangi tiang bendera seraya berkata, “Iya, sempurna…seperti Kakak.”
Vahn ge-er. “Er… menurut Chibi kakak sempurna ya?” *blushing* (subtitle= merah-merah kemaluan. WAKAKAKAKAKAK).
Chibi mengangguk cepat. “Benar Kak, bagi Chibi, kakak sangat sempurnya, sesempurna tiang bendera ini. Muka Kakak, badan kakak, kulit kakak, bulu idung kakak, sungguh persis tiang bendera!”
Vahn terdiam. Dia mamandang Chibi dengan ekspresi wajah ‘MAKHSOD LOOO?’ khas ABG ghaul masa kini, ABG-ABG harapan bangsa. Sayang Vahn bukan ABG lagi. Jadi ekspresi ‘MAKHSOD LOOO?’ yang seharusnya membuat Vahn terlihat ghaul, malah membuatnya lebih mirip bunga bangke dikasih kumis ama rambut palsu. Alias: menyedihkan.
“Jadi gue mirip tiang bendera ya?” tanya Vahn, pura-pura cuek.
“Bagusan dikit sih tiang benderanya ketimbang kakak.” Chibi masih memandangi tiang bendera dengan ekspresi kagum yang tidak dibuat-buat.
Vahn mojok.
Bening mulai mengalir dari matanya.
Dalam hati dia menyalahkan bokap-nyokapnya atas keancuran muka, badan, kulit, dan bulu idungnya. Membuatnya dikatain ‘mirip tiang bendera’ oleh gadis manis berkepang delapan. VAHN = TIANG BENDERA? Nyambungnya di bagian mane tuh Chi?
“Kakak? Kakak kok nangis sih?”
“DIAM! DIAM!!!! LEBIH BAIK AKU PERGI DARI SINI!!!” Vahn meraung dan berlari menjauhi Chibi.
Chibi memanggil-manggil Vahn. “KAKAAAAK! Katanya mau nari striptis?”
Vahn tak menghentikan langkahnya, tapi balas berteriak, “GA JADIII! GUE MAU OPERASI PLASTIK DULUUU! BYEEEEE! SAMPAI JUMPAAAAAA!!!!
“KAKAK GIMANA SIIIIIIH? CHIBI UDAH CAPE-CAPE BAWA TIANG BENDERANYA KESINIIIIIIIII… MALAH GA JADI NARIIIIIII…. CHIBI BENCI KAKAAAAAAAAAAAKKKKK…”
“KALO MAUUUUU, CHIBI AJA YANG NARI STIPTISSSSSSSSS. MENDING GUE KESAMBER PETIR DEHH… HAHAHAHAHAHAHAHAHAAAAAA…” Suara Vahn semakin menjauh.
Chibi mengerutkan kening dan berkata pelan, “makhsod looo?” Nah, kali ini gaya Chibi pas banget kalo ngomong kayak gitu. Tanpa basa-basa, dengan kekuatan yang luar biasa ia menarik tiang bendera dari tanah, memasang kuda-kuda berbahaya, kuda-kuda yang biasa digunakan para altit lempar lembing.
Chibi mundur tiga langkah, maju dengan langkah pendek yang makin lama makin cepat, kemudian dia mulai berlari. Dengan sekuat tenaga, Chibi melemparkan tiang bendera itu seolah tiang bendera itu adalah tombak para ksatria penunggang kuda.
Sasaran tiang bendera itu sangat jelas: Vahn…
Tidak mungkin meleset. Sebab lemparan Chibi tidak pernah meleset.
Di atas Chibi, langit mulai berubah gelap. Awan gelap bergulung tanpa ampun menuju ke arah yang sama dengan Vahn. Perlahan… suara petir pun mulai terdengar.
Chibi tersenyum ketika teringat kalimat yang terkahir diucapkan Vahn,
“KALO MAUUUUU, CHIBI AJA YANG NARI STIPTISSSSSSSSS. MENDING GUE KESAMBER PETIR DEHH… HAHAHAHAHAHAHAHAHAAAAAA…”
The End.