Sabtu, November 03, 2012

Dinda's Tale

Yaaaa.... akhirnya setelah melaui proses panjang naskah yang dipingpong Malang-Manado-Malang-Mataram-Malang  PP diskon 50% *eh << kebiasaan jualan* berakhir juga.
Kolaborasi Vahn dan Bobos yang satu ini semoga bisa menandai kebangkitan Kerajaan Setan........ Huaaa haaaa haaa haaaa *dislepet*
Oke oke... semoga Hufflemungo bangkit kembali dan meraih semua cita-citanya serta menjadi anak sholeh... Amin... *dilempar kambing guling*

Selamat menikmati!

Disclaimer: Hufflemungo.
Hak cipta dilindungi Prefek yang meskipun sudah beranak 4 tapi tetap memukau dan  bikin ngiler --pengen nabok

*********************************************************

Kisah ini terjadi pada zaman dahulu kalaaaaa banget. Zaman ketika naga-naga masih hidup dan suka buang upil sembarangan, upil batu bara yang sanggup menghanguskan rumah dan istana-istana. Di zaman itu, unicorn masih berlari liar di padang rumput (btw unicorn aslinya punya tanduk di bokong lho, bukan di kepala. Para pendongeng masa kini telah mempermak fisik uncorn, tanduknya diceritakan berada di kepala, biar gak kena sensor gitu).
Di zaman ini, masih banyak gunung berapi yang masih aktif sering memuntahkan lahar di saat-saat yang tidak manusiawi. Misalnya, ketika penduduk sedang terlelap di malam yang damai, mendadak gunung meletus
seenak jidat (oke, gue tahu gunung nggak punya jidat, tapi ngerti kan maksud gue?) membuat penduduk lari kocar-kacir menyelamatkan diri.
Belum lagi ditambah naga-naga suka iseng ngelempari upil-batu-bara mereka di saat-saat kacau seperti ini. Dan mereka sepertinya suka sekali melakukannya—naga-naga brengsek itu.

Bisa ditebak juga dong, pada zaman itu belum ada mobil, motor, sepaturoda, atau alat transportasi modern lainnya untuk ke mana-mana. Settingnya medieval-medieval gicu deh cyin. *dilempar asbak*

Udah ah. Lanjooot. *usep-usep kepala yang benjol kena asbak*

Pada masa itu, tersebutlah sebuah desa bernama Huffleville.
Huffleville adalah desa yang damai, jarang terkena semburan gurung berapi (alhamdulillah gunung berapi di dekat-dekat desa itu sudah lama tidak aktif) dan hampir tidak pernah lagi disentil upil bara api oleh naga iseng sejak seratus tahun terakhir, karena lokasinya yang terlindungi oleh pohon-pohon besar Forbidden Forrest (Hutan Dilarang Masuk). Desa Huffleville masuk dalam wilayah Uville, sebuah kerajaan yang dipimpin King Risvi Super Junior Keempatbelas, raja yang baik, ramah, murah senyum, tidak suka merokok, bajunya kotak-kotak, dan sering sekali mengunjungi warga desa, termasuk desa Huffleville. Sayangnya raja ini agak-agak pikun. Pernah suatu saat Raja Risvi mengunjungi desa Huffleville. Dan karena buru-buru pulang (mau nonton Master Chef Sisen 2, katanya), sang raja melupakan ibunda Ratu Chibul-Chibul Cherrybellek. Padahal waktu itu sang Ratu Chibul-Chibul Cherrybellek sedang mampir di toko fashion terkenal seantero Huffleville milik Madam Olip Beleklip, mencoba kemben  terbaru yang lagi ngetrend saat itu. Alhasil ibunda Ratu CCC-bellek (gitu aja singkatannya, capek bok ngetik nama Ratu yang panjang ituh…) ngambek sama baginda Raja Risvi dan memborong semua stok kemben milik Madam Olip Beleklip, tagihannya dibebankan semua ke Raja. Mampus deh Raja, prodak-prodak Madam Olip kan terkenal muahal gelo. Hihi.

Eniwei, pagi itu desa Huffleville tampak damai seperti biasanya. Cenderung membosankan, malah. Aroma masakan yang menggiurkan tercium dari rumah-rumah, menandakan para wanita pastilah sedang memasak untuk sarapan buat keluarga. Anak-anak kecil ada yang terlihat sedang berjongkok di depan pintu rumah, ada yang menangis, ada yang diem aja ngeliatin temennya nangis, ada yang sedang goyang-goyang pinggul nahan pipis, ada yang sibuk mengejar anak-anak ayam buat diajakin hompimpah.
Sementara para ayah sedang mempersiapkan diri untuk mencari sesuap nasi dan sekarung berlian. Oke, lebai. Bapak-bapak sedang bersiap-siap untuk bekerja seperti biasa. Ada yang ke sawah, ada yang ke hutan untuk mencari kayu terbaik untuk dipahat sama tukang pahat satu-satunya di desa itu yang anaknya barusan kecelakaan ketimpa pohon trembesi dan istrinya pergi meninggalkannya serta ternaknya mati semua lalu teman bisnisnya mengkhianatinya lalu bb-- *dibekep kain pel*.
Ada juga lho yang pergi ke tambang (tambang batu biasa kok, bukan tambang berlian. Ngarep nih yeee…).

Begitulah kira-kira gambaran kehidupan desa Huffleville.

***

Di dalam salah satu rumah yang terletak di ujung desa Huffleville seorang gadis terlihat gembira. Ia mengelap keringat di dahinya sambil tersenyum puas. Gadis itu bernama Dinda Blablabla. Nama yang sederhana, sesederhana mukanya, eh maksudnya sesederhana penampilannya..

Dinda memandangi hasil karyanya dengan perasaan senang dan penuh haru. Tak disangka ia ternyata punya bakat yang luar biasa—selain bakatnya yang memang sudah dikenal seantero Desa Huffleville: memanjat
genting.
Bakatnya itu memanjat genting sudah terlihat sejak ia masih bayi. Entah bagaimana, sejak bisa berguling ibunya selalu menemukannya di atas genting. Ia sudah berusaha sekuat tenaga mempelajari silsilahnya, mungkinkah ia punya hubungan darah dengan atap rumah? Ataukah ia korban konspirasi berdarah?
Jangan-jangan sebenarnya Dinda jelmaan Dewi Genting?
Jangan-jangan ia mahluk nirwana cantik jelita yangdikutuk jadi manusia?
Jangan-jangan Julia Perez sebenarnya lelaki? *eh*

Dinda merasa sangat terharu, karena bakat barunya ini pastilah akanmembebaskannya dari penderitaan. Penderitaan karena diomeli orang tiap hari gara-gara bakatnya memanjat genting itu.

Dinda pernah menggegerkan seisi desa, karena genting yang ia panjat ambrol dan menjatuhi Ipeh yang sedang duduk di WC, sehingga Ipeh langsung kecebur ke dalam septik tank.  Kebayang dong baunya seperti apa. Bahkan setelah mandi kembang 7 rupa dari 7 sumber air di 7 danau dengan 7 jenis gayung di 7 kamar mandi, Ipeh masih juga bau dan dikerubuti lalat hijau kemana-mana.   

Dua hari yang lalu ia memanjat genting rumah Madam Tepil, salah satu pengusaha pembiakan kuda betina. Madam Tepil sangat murka dan melempari Dinda dengan penggilesan, karena pecahan genting itu dengan
sukses mendarat di muka Madam Tepil, tepat di saat ia sedang asyik maskeran dengan abu gosok.  Alhasil jidat Dinda jadi benjol, dan jadi cocok banget ikut casting film Hellboy.

Nah kemarin nih, tanpa sadar Dinda melubangi atap rumah Om Vahn dan secara tidak sengaja menjadi saksi perbuatan paling nista sealam semesta: ngecat bulu keteknya dengan semir rambut warna pink. Tidak
hanya itu, Om Vahn juga terlihat mengendus bulu keteknya dengan penuh kenikmatan. Sebenarnya Om Vahn sedang asyik dengan aktivitas terlarangnya dan sama sekali tidak menyadari atapnya yang mendadak bolong. Hanya saja, Dinda yang tak tahan dengan apa yang dilihatnya langsung muntah dan mengenai muka Om Vahn. Jack pot deh!

Alih-alih marah karena kena muntahan, Om Vahn justru ketakutan. Ya iyalah cyin, secara ya, mengecat bulu ketek bisa ancem hukuman berat… King Risvi Super Junior Keempatbelas bahkan pernah mengkitik-kitik kaki penjahat kelas kakap dengan bulu angsa sampe mulut penjahatnya berbusa, karena sang penjahat ketahuan memiliki bulu ketek berwarna oranye! Apalagi dengan posisi Om Vahn sebagai ketua RT, bisa malu berat dong yah, sama warga, mau ditaruh di mana wibawanya??? Amit-amit jabang beybeh deh, pokoknya jangan sampai orang-orang tahu! Dinda yang sudah bersiap-siap untuk kabur dibujuk oleh Om Vahn. Akhirnya, setelah proses negosiasi yang cukup alot, Om Vahn akhirnya menyogok Dinda agar tutup mulut. Pak RT ganteng itu memberinya harta pusaka keluarga yangmenjadi kesayangannya selama ini: Ember Adamantium, Ringan Dan Anti Bocor! Ciyuz.

Nah, jika kalian sejak tadi bertanya-tanya apakah bakat Dinda yang lain itu (selain gegulingan di genting), maka jawabannya adalah: menghias ember. Euh, agak kebanting ya? Habis kayaknya misterius bener
bakat Dinda yang ini. Tapi, Saudara-saudara, justru bakat inilah membuat Dinda terharu sekaligus bersuka ri ketimbang bakat gegulingan di genting rumah orangyang justru sering membuatnya terseret masalah. Ember Adamantium Ringan Dan Anti Bocor pemberian Om Vahn itu kini sudah jauh lebih kinclong setelah diberi hiasan renda-renda oleh Dinda (dicomot dari baju emaknya waktu muda dulu) dan tempelan payet di sana-sini. Tinggal dikasih cadar, jadi pengantin deh itu ember.

Ember ini adalah masa depan Dinda Blablabla. Banyak hal yang ia harapkan dari ember pusaka ini. Ia punya rencana yang membutuhkan banyak uang. Apalagi jika rencananya terlaksana nanti dia harus menghadapi Bobos, birokrat paling mata duitan di kerajaan Uville. Selain membayar uang birokrasi, ia pasti ditodong untuk mengganti kerugian semua genting pernah yang dipecahkannya, lalu ia masih harus membayari Bobos untuk makan siang, makan malam dan jangan-jangan disuruh pula mengajak anak-anaknya jalan-jalan ke Trans Studio. Masih untung jika itu cuma itu yang harus dilakukannya. Tetangganya si Kacang, pernah disuruh Bobos untuk mendatangkan girlband SNSD (Saya Nyanyi Situ Diare) hanya gara-gara ngurus KTP ilang.  Jadi mau gak mau ia memang harus menyiapkan uang yang cukup banyak jika ingin mewujudkan impiannya.

Ibu Dinda yang terpesona oleh kecantikan ember buatan Dinda, segera menghubungan dengan sosial media, seperti Cipi Cipika Cipiki dan Diah Si Bibir Merah, penyiar infotainment di Uville TV. Eh, jangan dibayangkan tivi di jaman itu kayak tivi sekarang ya. Tivinya ada di alun-alun kota, terdiri dari kotak jerami berukuran raksasa. Pengisi acaranya harus masuk ke dalamnya. Kalau sedang menayangkan film, tokoh dan pendukungnya masuk semua, termasuk kereta kuda, hewan-hewan dan rumah-rumah. Nah lho, gimana kalau ceritanya tentang hutan ya? *puyeng sendiri*

Singkat kata, hanya dalam hitungan detik, bakat baru Dinda segera menjadi buah bibir di Desa Huffleville.
Berita ini akhirnya sampai juga di telinga Beje, takmir masjid agung Huffleville, yang menjelang Idul Adha dibuat pusing oleh kambing-kambing dan sapi-sapi kurban. Pusing karena tiap hari mereka minta duit buat pergi mall. Eh, bukan ding, itu kan anak-anak Beje....
Beje pusing karena hewan kurban itu suka boker sembarangan, memenuhi halaman masjid sekaligus halaman rumahnya, yang membuatnya harus kerja ekstra tiap hari mengeringkan tuh kotoran pake hair dryer, biar bisa disajikan di meja makan, -eh- maksudnya gampang dibersihkan.
Mendengar kabar tentang Dinda, Beje seperti mendapat angin surga. Ia berharap bisa segera mempersunting Dinda -ups- maksudnya ia ingin segera menghubungi Dinda. Ember-ember Dinda pastilah bisa mengatasi masalahnya.

Tanpa berpikir panjang, Beje segera berangkat ke rumah Dinda.  Kebetulan saat itu Dinda sedang asyik menghias ember-ember kesayangannya.
"Din, bantu gue dong Din!" Tanpa basa-basi Beje langsung menuju sasaran.
Dinda melirik Beje sebentar, lalu kembali menekuni ember-embernya.
"Bantuin apaan?"
"Ember loe itu, pasti bisa bantuin gue."
Dinda melotot.
"Eh eni mahakarya ya. Gak bakal gue kasih kalo gratisan."
"Yah elo Din, gue kan takmir mesjid, masa disuruh bayar sih?" Beje mulai ngerayu.
"Lah, elo kan juragan sapi, takmir mesjid pan cuma selingan. Gak gue kasih kalo gratisan mah!"
(eh btw, ini settingnya Eropa, tapi kok sunda-betawian ya? *garuk-garuk* ah biarin ah.. lanjooottt)

"Iya deh iya, gue bayar, berapa nih?" Ngalah juga si Beje.
"Tergantung buat apaan dulu?" Dinda penasaran.
"Itu tuh, sapi-sapi ama kambing-kambing yang mau dikurban, pada boker sembarangan. Udah gue ajarin boker ke WC, tapi yang ada malah WC gue jebol dan sapi-sapi ama kambing-kambing itu tetep aja  boker sembarangan. Nah, ember loe kan nyeni, pasti mereka pada mau boker di ember elo. Gimana? Gue dikasih harga murah kan?"

Dinda manggut-manggut. Kesempatan nih.
"Menurut kamus urgensitivitas, berarti ember gue amat-sangat-diperlukan-tingkat-tinggi nih. Itu artinya, harganya bakal tinggi juga nih."
"Yah elo Din... ini kan untuk kepentingan umat." Beje berusaha ngerayu lagi.
"Iya sih, gue tau Je...."
"Tapi gue butuh duit Je... Gue butuh tujuh digit....." Dinda mulai kalem dan pasang muka melas...
Beje kesian juga sama Dinda.
"Ya udah deh, gue beli semua ember elo tujuh digit ya..."
Dinda sumringah.
"Wah, beneran nih? Oke oke, gue bungkusin semua atu-atu ya!"
"Eh..eh...nggak usah dibungkus, biar gue naikin kereta aja." Beje ngebayangin repotnya bungkusin ember.
"Yaahhh...padahal gue mau bungkus pake kertas kado yang udah gue cap bibir."
Beje melongo.
   
Sepeninggal Beje, Dinda gak berhenti-berhenti ngitung duit penghasilannya. Udah 2348 kali mungkin Dinda ngitungnya. Nggak terasa capek sama sekali (ya iyalaaahhh....). Paling jempolnya aja sebentar-sebentar joget gangnam style. 
Hati Dinda amat berbunga-bunga. Akhirny` ia kini bisa berbangga hati. Punya pekerjaan yang pasti. Dan sudah saatnya mewujudkan mimpi. Mimpi yang telah menghantui tidurnya sejak ia bayi.
Besok ia akan mengurus segala sesuatunya. Ia sudah tak sabar lagi melihat mimpinya menjadi nyata: mengganti nama Dinda Blablabla menjadi Dinda Ciyus Miapah.... Betapa seksinya nama itu....

Jumat, September 18, 2009

Salam Lebaran

 Kami segenap dan seganjil pasien HuffleMungo Hospital mengucapkan

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H

Minal Aidin Wal Faizin Mohon Maaf Lahir dan Batin

تقبل الله منا ومنك 

Jumat, Juli 03, 2009

Tiang Listrik Dekat Pohon Kamboja

Aku merenung,
menatap bulan pucat di antara gunung,
awan yang bingung,
dan bintang yang murung.

malam ini purnama,
tapi tak ada aum serigala,
maupun sosok hantu perubah rupa,
apalagi, wanita muda.

Aku benci berdiri di sini !
Bersanding dengan wanita tua.
Yang bergoyang semangat mencaci,
menaburiku dengan kelopak duka.

aku benci terpaku di sini !
Bersama si wanita tua.
Yang terus mencibir menusuk hati.
Memukuliku dengan dahan kasar.

Aku benci tak berdaya di sini !
Menatap iri pada sahabat-sahabatku,
tanpa si iblis tua dengan kelopak berjatuhan.
Hanya bersama langit atau dinding mati,
mengantar energi semampuku,
tanpa wanita tua dengan aroma kematian.

aku menunggu pagi tiba,
berdoa agar angin reda,
supaya wanita ini tak lagi gelisah,
sehingga aku tak lagi resah.

Aku benci menjadi diriku sendiri,
si tiang listrik yang terpaku di sini,
aku tak ingin bersama si wanita tua !
Namanya pohon kamboja...

By: Mecha Skeeter

Senin, Juni 22, 2009

Gathering Pedopil versi Risvi

Ini versi aku, versi Beje-Aldi? Minta aja~

Haia, hari minggu kemarin, 21-06-09 adalah waktu dimana kami para sarapers bertemu. Yup, ini adalah Gathering Hufflepuff-Hufflemungo yang aku ikuti kedua. Hahah. Sebenernya seharusnya yang dating itu sih, aku, Beje-Aldi, Narra, Ka Ipeh, dan Ka Ran. Eh, masa pas hari-hari sebelumnya, si Ka Ipeh bilang ga bisa, mau ke kondangan, malem sehari sebelum gath, Narra bilang ga bisa dateng gara-gara mau remed di sekolah. Yeah, jadi tinggal aku, Aldi, dan Ka Ran. Ya, udah deh, lanjut saja gath-nya. Ehm, sebenernya aku, Narra, sama Ka Ipeh itu mau bikin surprise buat Aldi, mau ngebanjur dia terus kasih dia baju item polos yang bisa ditandatngani. Heheh. Aku beli sepidol putih sama perak, terus aku beli tepung sagu gitu deh. Eh, dikarenakan Narra ga jadi, gagal deh. Tapi tetep aja aku mau ngebanjur Aldi. Jadi, sekitar jam setengah 12 malem, aku bikin ramuan. Masukin air ke botol, masuki tepung sagunya, kasih cuka, lada putih, dan kecap =)) Ya, aku kocok dan alhasil, pikirkan sendiri ;))

Keesokan harinya, ya, GATH! =)) Aku berangkat jam 6 pagi, sampai sana aku jam 8. Naek kereta express sih. Hahah. Kecepatan satu jam jadinya. Ya, nunggu sampai jam 9, nelp si Aldi, masih di jalan. Dam akhirnya dia sampai jam 10, see? 10! Ngaret satu jam =)) Ya, pertama aku lihat anak kecil dengan dresscode yang ia berikan = celana baju tas sandal HITAM <<< mau ngelayat siapa Di? ;)) Terus, aku tes aja dengan miscall. Hahah. Dia keluarin hp dia, ok, he is Aldi-Beje. Ok, aku mau samperin dia, eh dianya malah ke toilet coba. Hahah. Aku tunggu aja di samping toilet, ujug-ujug dia keluar dan langsung meilirik saia yang keren ini *dihajar*. Terus, salaman deh sama Aldi,

“Akhirnya ketemu juga kita,” kataku. =))

Lanjut, dengan acara jalan-gak-jelas gitu deh, sampai ketemu bangku dan langsung duduk di bawah mentari yang sangat panas. Ngobrol dan akhirnya aku mengeluarkan ramuan aku dan mulai mengintimidasi Aldi. Terus, ke bawah pohon gitu deh, tau ga, di tempat itu banyak orang pacarannya =)) berarti? Oh, tidak, saia tidak mungkin pacaran dengan Aldi ;)) terus pergi deh dari sana ke tempat yang lebih terang untuk main catur. Si Aldi yang bawa VAVAHN caturnya. Hahah. Main deh, dan dengan kerennya saia kalah dari anak kelas 7 :(( Ok, Di, saia mengakui-tidak-lebih-pintar-dari-anda-dalam-catur :(( Ya, kami sudahi saja dan kami simpan semua bidak catur, eh ada yang ketinggalan, saia gunakan untuk memancing Aldi mendekat aku, soalnya aku mau ngebanjur dia. Eh, si Ka Ran sms kalau tesnya selesai jam 4, jadi dia ga ikut :(( jadi berdua aja sama Aldi. ;)) Terus aku banjur deh, cuma yang kena itu tasnya, tubuh bagian kananannya dan rambutnya sedikit. =)) Maafkan saia Aldi~

Ya, kuantarkan dia ke toilet untuk ganti baju. Terus, keluar deh dia dengan baju kuning, celana jeans. Hahah. Terus, aku memutuskan untuk mengajak Aldi ke Grand Indonesia untuk makan, aku yang traktir deh~ =)) Terus, ya pergi deh, pertama sih nyari halte busway setengah mampus, dan akhirnya menemukan halte busway Bank Indonesia. Padahal dari situ tinggal jalan aja, tapi NO WAY! =)) Pas lagi jalan ke haltenya Narra telp, aku bilang pas di GI aja, ok. Pas di jembatan haltenya Kacipirit telp, aku bilang di GI aja. =)) Pas sampe GI sama sekali lupa =)) Terus, aku traktir deh si Aldi KFC. Terus, kami fotofoto gitu. Eh, kelupaan, pas di jalan kami juga foto-foto. Heheh. Terus aku ajak si Aldi ke Dancing Fountainnya GI. Ok, kami telat, sudah ramai di sana, tapi ya gapapa, masih kelihatan buat aku, ga tau si Aldi, dan aku suruh dia maju ke depan, badannya kecil jadi gampang nyelip =)) dia mau foto, tapi ga nyampe ya udah aku fotoin. Hahah. Selesai dari sana aku sama Aldi ke lantai atas, dan fotofoto lagi. Terus, ke tempat es krim gitu buat duduk, es krimnya? 28 rb! Ogah ah, beli spite aja 12.500! =)) Cuma buat numpang duduk doang. =)) Sambil main laptop dan foto-foto lagi. Hahah. Terus, akhirnya kami keluar GI deh, dan berdebat bagaimana aku mau ke halte busway GAMBIR 2? =)) Ya, aku ikutin aja kata Aldi. Kami ke harmoni dan ramai sekali di sana :| oh, nunggu deh, dan naik deh busway kea rah Pulo Gadung, arah rumah Aldi. Hahah. Dan kami berpisah di busway tersebut, dan gath selesai sudah. :((

Ya, bisa diblang hari itu aku kayak orang pedopil, duaan sama anak kelas 7, 2 tahun lebih muda daripada aku =)) dan kami menetapkan bahwa 21 Juni adalah hari pedopil sedunia =))

Oh, well, begitu saja cerita singkat aku mngenai gath pedopil kami =))

Minggu, Juni 14, 2009

Pengangkatan Beje sebagai ADMIN

Nyahahahahahah... <<< silahkan menilai sendiri =))

Well, setelah menimbang berat badan nimbang, bahwa dengan ini saia membutuhkan seorang admin lagi... Hahahah. Setelah ada diriku yang keren ini, dan bobos yang keren juga, maka dunia per-adminan HuffleMungo's Blog akan ditambah dengan orang yang tidak kalah kerennya juga dengan kami, who is he? not she ya! =))

Yeah, dengan bodohnya saia membuat anda penasaran, padahal sudah saia tulis namanya di judul =)) *bakar diri* Ya, orang keren itu adalah Beje, anak kelas 7 SMP yang akan naik ke kelas 8 SMP yang belum memiliki suara pecah. *peace je!*

Ya, karena Beje sudah bisa dibilang expert dalam menulis blog atau semacamnya dan kreatip serta lucu dan imut, maka saia yang bernama Risvi Maulana, pembuat blog ini mengangkat Beje sebagai Admin pada,

hari : Minggu
tanggal : 14 Juni 2009

HOREEEEEEE~ Mari kita sambut Admin baru kita, BEJE!!! *tebar tebar bunga kamboja* Emm, saia harap dedek beje ini bisa bekerja lebih baik daripada sang pembuat blog *tunjuk diri sendiri* okok?

Ok, sekian dan terimakasih~

Selasa, Juni 09, 2009

Gath LAGI!

Ya... Mungkin ini gath ga akan rame ya. Karena sudah pada confirm gitu. Hahah. Tapi, gapapa lah, kita jadikan saja!

21 Juni 2009
Monas
09.00 WIB

Emmm, kalau mau nanya gitu ke Huffle ya semuanya. Hahah. Kalau yang ikut kasih no hp kalian kepada aku dan Beje ya. Lewat PM aja di HPI. Hahaha. Okok?

^
^
^

lagi ga ada mood nulis. Hahaha.

Beje keren's Note: double post. saya hapus satu.

Selasa, April 28, 2009

FF Romansa Vahn - Chibul

Ada apa dengan dua mahluk ini? Mari kita lihat FF yang dibuat oleh pak de Vahn ini..

Rating: G untuk Gak jelas!

Di kejauhan, terlihat seorang gadis manis dengan rambut dikepang delapan yang ujung-ujungnya dicat merah jambu, berlari dalam adegan slow motion sambil memanggul tiang bendera di pundaknya. (sfx: Koi Mil Gaya) Gadis itu adalah Chibi Maru-Maru Kuchink. Dia mendatangi Vahn… dalam adegan slow motion. (Pada ngerti slow motion kan? Awas kalo ga ngerti!)


“Hosh..hosh..hosh…” <-- kalo di komik-komik orang kecapean kayak gitu ngomongnya. Dan Chibi pun sama seperti di tokoh dalam komik yang kecapean setengah mampus. Lidahnya udah keluar 10 senti dari bibir.

“Buset Chi, kok elu yang bawa tiang benderanya? Gue ngarep sih anak-anak cowok Hapel yang datang bawa tiang bendera, eh malah elu yang nongol. Kagak cape lu?” Vahn berkata.

“Kakak gak liat ya lidah Chi udah mau copot gara-gara kecapean!” bentak Chi sebal.

“Oh, mangap, gue kira elu mau nangkep nyamuk. Masih keturunan katak kan?” kata Vahn asbun. “Habis lidah Chi panjangan banget sih, mengingatkan gue kepada lidah katak yang-UPH!-WHOI-KHAFA-KHAFAAN-IHIH?-KHUE-KHAGA-WIHA-HAPAS-HIH! HUMPHAH!” (subtitle: WOI APA-APAN NIH? GUE GA BISA NAPAS NIH! SUMPAH!”

Chibi telah menyumpal mulut Vahn dengan ujung tiang bendera yang dibawanya. Vahn megap-megap.

“Kakak sih, ngatain Chibi keturunan katak… Apa? Lepasin? Ogah… Cium dulu doooonggg” *ketip-ketip*

“IHIH-KHUE-HEHIUS-FEHERAN-KHAGHA-FIHA-HAFASSSSSS!!! (subtitle: INI GUE SERIUS! BENERAN KAGA BISA NAPAS CHIBI SAYAAANG…) *yang lain ga usah komentar!*

“Apa, Kak? Gak bisa napas? Oh, ngomong dong…” Chibi menarik tiang benderanya. Ujung tiang bendera itu belepotan air liur. “Iugh…” Chibi mengerutkan mukanya. Ekspresi wajahnya tampak jijik melihat air liur yang menetes-netes dari ujung tiang bendera. Uoh, dia imut banget!

Vahn batuk-batuk. “Chibi kejam deh. Vahn nyaris aja mampus tadi…” *ngambek mode on*

Chibi nyengir.

Vahn masih ngambek.

Chibi ketawa.

Vahn ga ngaruh.

Chibi kentut.

Vahn pingsan.

“Yah? Kok kakak pingsan?” Chibi panik.

***


“Nah, beres sudah. Tiang bendera ini sangat sempurna!” kata Vahn. Setelah siuman dari pingsan singkatnya, Vahn berusaha menghujamkan tiang bendera yang ga ada benderanya sama sekali itu tadi ke tanah. Tiang itu sekarang berdiri kokoh, bersiap melakukan tugasnya. Mata Vahn berbinar-binar saat menatap tiang bendera itu.

Chibi ikut memandangi tiang bendera seraya berkata, “Iya, sempurna…seperti Kakak.”

Vahn ge-er. “Er… menurut Chibi kakak sempurna ya?” *blushing* (subtitle= merah-merah kemaluan. WAKAKAKAKAKAK).

Chibi mengangguk cepat. “Benar Kak, bagi Chibi, kakak sangat sempurnya, sesempurna tiang bendera ini. Muka Kakak, badan kakak, kulit kakak, bulu idung kakak, sungguh persis tiang bendera!”

Vahn terdiam. Dia mamandang Chibi dengan ekspresi wajah ‘MAKHSOD LOOO?’ khas ABG ghaul masa kini, ABG-ABG harapan bangsa. Sayang Vahn bukan ABG lagi. Jadi ekspresi ‘MAKHSOD LOOO?’ yang seharusnya membuat Vahn terlihat ghaul, malah membuatnya lebih mirip bunga bangke dikasih kumis ama rambut palsu. Alias: menyedihkan.

“Jadi gue mirip tiang bendera ya?” tanya Vahn, pura-pura cuek.

“Bagusan dikit sih tiang benderanya ketimbang kakak.” Chibi masih memandangi tiang bendera dengan ekspresi kagum yang tidak dibuat-buat.

Vahn mojok.
Bening mulai mengalir dari matanya.
Dalam hati dia menyalahkan bokap-nyokapnya atas keancuran muka, badan, kulit, dan bulu idungnya. Membuatnya dikatain ‘mirip tiang bendera’ oleh gadis manis berkepang delapan. VAHN = TIANG BENDERA? Nyambungnya di bagian mane tuh Chi?

“Kakak? Kakak kok nangis sih?”

“DIAM! DIAM!!!! LEBIH BAIK AKU PERGI DARI SINI!!!” Vahn meraung dan berlari menjauhi Chibi.

Chibi memanggil-manggil Vahn. “KAKAAAAK! Katanya mau nari striptis?”

Vahn tak menghentikan langkahnya, tapi balas berteriak, “GA JADIII! GUE MAU OPERASI PLASTIK DULUUU! BYEEEEE! SAMPAI JUMPAAAAAA!!!!

“KAKAK GIMANA SIIIIIIH? CHIBI UDAH CAPE-CAPE BAWA TIANG BENDERANYA KESINIIIIIIIII… MALAH GA JADI NARIIIIIII…. CHIBI BENCI KAKAAAAAAAAAAAKKKKK…”

“KALO MAUUUUU, CHIBI AJA YANG NARI STIPTISSSSSSSSS. MENDING GUE KESAMBER PETIR DEHH… HAHAHAHAHAHAHAHAHAAAAAA…” Suara Vahn semakin menjauh.

Chibi mengerutkan kening dan berkata pelan, “makhsod looo?” Nah, kali ini gaya Chibi pas banget kalo ngomong kayak gitu. Tanpa basa-basa, dengan kekuatan yang luar biasa ia menarik tiang bendera dari tanah, memasang kuda-kuda berbahaya, kuda-kuda yang biasa digunakan para altit lempar lembing.

Chibi mundur tiga langkah, maju dengan langkah pendek yang makin lama makin cepat, kemudian dia mulai berlari. Dengan sekuat tenaga, Chibi melemparkan tiang bendera itu seolah tiang bendera itu adalah tombak para ksatria penunggang kuda.

Sasaran tiang bendera itu sangat jelas: Vahn…

Tidak mungkin meleset. Sebab lemparan Chibi tidak pernah meleset.

Di atas Chibi, langit mulai berubah gelap. Awan gelap bergulung tanpa ampun menuju ke arah yang sama dengan Vahn. Perlahan… suara petir pun mulai terdengar.

Chibi tersenyum ketika teringat kalimat yang terkahir diucapkan Vahn,

“KALO MAUUUUU, CHIBI AJA YANG NARI STIPTISSSSSSSSS. MENDING GUE KESAMBER PETIR DEHH… HAHAHAHAHAHAHAHAHAAAAAA…”

The End.